Merasa Tak Dihargai, Warga di Gading Tanon Sragen Nekat Bangun Tembok di Tengah Jalan

Daftar Isi [Tutup]

    Merasa Tak Dihargai, Warga di Gading Tanon Sragen Nekat Bangun Tembok di Tengah Jalan

    Salah satu warga nekat menutup jalan di RT 18, Dukuh Ngledok, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Sragen. Ada 10 KK mengaku bingung untuk masuk ke rumahnya karena jalan menuju rumah ditutup tembok.

    Jalan dengan luas 3 meter tersebut ditutup dengan tembok hebel oleh salah satu warga oleh keluarga pemilik lahan yang bernama Mbah Sonem pada Senin pagi, 3 Agustus 2020.

    Foto jalan yang ditembok juga sempat di unggah di media sosial oleh warga yang terdampak. Salah satu warga RT 18 yang rumahnya tertutup oleh tembok mengatakan kejadian ini dilakukan Senin pagi 3 Agustus 2020 oleh kerabat Mbah Sonem.

    Merasa Tak Dihargai, Warga di Gading Tanon Sragen Nekat Bangun Tembok di Tengah Jalan

    Menurut informasinya, jalan itu dulu memang pekarangan milik Mbah Sonem yang dibuat jalan tembusan. Dulu lebar jalan sekitar 2,5 meter dengan panjang masuk sekitar 20 meter. Saat itu Mbah Sonem telah mengikhlaskan untuk dijalankan jalan tembusan. Namun setelah pekarangan tersebut diberikan kepada anaknya, tanah yang digunakan untuk jalan tersebut ingin diminta kembali.

    Heri menyampaikan akibat dari penutupan jalan tersebut, 10 KK yang ada di sebelah tembok tidak bisa melintas lagi. Untuk bisa keluar, 10 KK harus memutar ke jalan utama sekitar 500 meter.

    10 KK tersebut berharap agar jalan bisa digunakan lagi, warga terdampak juga telah melaporkan kejadian ini ke desa.

    Kepala desa Gading, Puryanto tidak menyalahkan adanya penutupan jalan dengan tembok hebel oleh salah satu warga di Ngledok tersebut.

    Puryanto justru menyebut jika penutupan tersebut atas izinnya karena memang lokasi yang ditutup adalah tanah pekarangan milik keluarga Mbah Senom.

    Ia juga mengatakan jalan tersebut bukan jalan umum atau jalan desa. Akan tetapi lahan pekarangan pribadi milik para warga yang difungsikan sebagai jalan tembus.

    Mbah Sonem dan keluarga datang untuk melapor ke balai desa. Karena tidak dihargai oleh warga setempat. Kemudian meminta izin untuk menggunakan pekarangannya kembali. Karena jalan tembusan tersebut merupakan tanah milik keluarga Mbah Sonem.

    Puryanto menambahkan jika penutupan dilakukan keluarga Mbah Sonem karena merasa tidak pernah dimintai persetujuan. Kemudian, mereka juga menolak meskipun tanah yang digunakan jalan hendak dibeli warga Ngledok.

    Warga juga tidak mengajak musyawarah, tanpa persetujuan langsung membangun jalan sampai lebar 3 meter. Nah keluarga Mbah Sonem melaporkan hal ini karena merasa tanah tersebut bagian dari pekarangan miliknya.

    Puryanto mengatakan sebetulnya tidak ada masalah, karena warga yang terdampak sadar bahwa yang ditutup adalah pekarangan milik keluarga Mbah Sonem.

    Bahkan, besok warga juga memutuskan untuk membongkar batu-batu dan jalan lanjutan yang sudah tertutup oleh tembok.

    Berlangganan update artikel terbaru via email:

    Belum ada Komentar untuk "Merasa Tak Dihargai, Warga di Gading Tanon Sragen Nekat Bangun Tembok di Tengah Jalan"

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel