Kasir Mal Meninggal Karena Covid-19, Pembeli Baju Lebaran Panik

Kasir Mal Meninggal Karena Covid-19, Pembeli Baju Lebaran Panik

Para pembeli yang nekat membeli baju lebaran panik ketika mengetahui salah seorang kasir mal diketahui terkena virus corona atau Covid-19.

Kondisi di Indonesia saat ini masih dianggap belum aman dan banyak daerah yang masih memberlakukan PSBB.

Sayangnya, banyak beredar foto-foto yang menunjukan pemandangan mal tampak berjubel demi untuk belanja baju lebaran. Namun, saat ini para pembeli panik saat tahu jika ada kasir di salah satu mal yang ada di Medan terpapar virus corona.

Mal dimana pegawai kasir positif virus corona ini sempat ramai di kunjungi oleh masyarakat meskipun di tengah pandemi covid-19.

Seluruh karyawan mall akhirnya diwajibkan untuk melakukan rapid test, karena adanya laporan salah seorang pegawainya positif covid-19.

Dr Edwin Effendi mengatakan bahwa rapid test dilakukan kepada seluruh karyawan terutama yang pernah kontak langsung dengan kasir tersebut.

Disisi lain, belum ada informasi penutupan dari pusat perbelanjaan tersebut. Pusat perbelanjaan ini belum tutup sebelum mendapatkan hasil dari rapid test.

Sedangkan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) COVID-19 Sumatera Utara, mayor Kes dr Whiko Irwan mengatakan bahwa tidak hanya karyawan, namun seluruh warga yang pernah kontak langsung dengan kasir tersebut harus datang untuk menjalani rapid test.

Seorang kasir yang diketahui bekerja di pusat perbelanjaan yang ada di jalan Gatot Subroto Medan, Chang Chen Sulastri, di ketahui meninggal dunia.

Sebelumnya, korban sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Murni Teguh Medan dengan status positif Covid-19 melalui tes PCR.

Medan Bukan Satu-satunya Kota dengan Pengunjung Mal Berjubel

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada sejumlah kota-kota besar salah satu tujuannya adalah untuk memutus penyebaran virus corona. Pada situasi saat ini beberapa tempat tidak menunjukan hal berbeda jauh dengan sebelum adanya PSBB.

Masyarakat bahkan menganggap seperti tidak ada PSBB, bahkan terlihat dengan jelas masyarakat masih memadati ruangan publik seperti pusat perbelanjaan.

Salah satu bukti, terlihat di Mal CBD Ciledug Kota Tangerang yang videonya sempat viral. Gufron Efendi selaku Kepala Bidang Penegakan Hukum Satpol PP Kota Tangerang menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Minggu, 17 Mei 2020.

Gufron menjelaskan jika pusat perbelanjaan tersebut diizinkan buka karena mendapat izin sebuah hypermarket yang melayani kebutuhan dasar sehari-hari.

Peristiwa berkerumunnya warga di pusat perbelanjaan tersebut, menunjukan manajemen mengabaikan persyaratan protokol kesehatan yang menjadi syarat operasional pada saat PSBB.

Ketika diperiksa memang betul jika pihak pengelola Mal CBD Ciledug terbukti melanggar sejumlah syarat operasional pada masa PSBB. Akhirnya, operasional mal ditutup dan hanya membuka area yang mendapat izin operasional.

Pemerintah tentu sangat khawatir karena kota Tangerang merupakan kota yang paling banyak menyumbang angka positif Covid-19 di Provinsi Banten.

Pemerintah Tangerang juga pernah menindak dengan memberlakukan penutupan sementara terhadap pusat perbelanjaan perabot rumah tangga IKEA di kawasan Alam Sutera, karena beredar video yang memperlihatkan ramainya pengunjung di lokasi tersebut.

Penutupan sementara terhadap IKEA memang diperpanjang sampai dengan 31 Mei 2020 karena mengikuti aturan PSBB Tangerang yang diperpanjang sampai dengan 31 Mei mendatang

Pihak IKEA justru mengalihkan transaksi konvensional menjadi online, hingga akhirnya penjualan online IKEA mencapai target.

Pendapat Ahli Atas Peristiwa Ini

Sementara itu, seorang Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Imam Prasodjo mengatakan bahwa kondisi seperti itu bisa terjadi karena ada tiga hal.

Pertama, pemahaman masyarakat berdasar dengan situasi yang ada di lapangan. Tidak semua warga membaca dan memahami penjelasan dari para ahli tentang aturan bahaya penyebaran virus corona.

Kedua, banyak masyarakat melanggar aturan bahaya Covid-19 sehingga ditiru oleh orang lain. Artinya, masyarakat melihat rekan-rekannya beraktivitas tidak ada masalah, dan masyarakat cenderung mengikuti apa yang mereka lihat saat itu.

Ketiga, masyarakat masih belum terbiasa dengan pembatasan aktivitas karena pandemi  Covid-19.

Faktor lain, masyarakat masih belum terbiasa atau masih berat melepas kebiasaan di tengah pembatasan aktivitas akibat pandemi Covid-19. Ini membuat dorongan pada masyarakat untuk melakukan budaya menjelang lebaran.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Kasir Mal Meninggal Karena Covid-19, Pembeli Baju Lebaran Panik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel