IDI Ungkap Kematian Corona di Indonesia Lebih dari 1.000 Kasus, Beda Dengan Data Pemerintah

Daftar Isi [Tutup]

    IDI Ungkap Kematian Corona di Indonesia Lebih dari 1.000 Kasus, Beda Dengan Data Pemerintah

    Daeng M Faqih selaku Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan jika angka kematian virus Corona atau Covid-19 di Indonesia sebenarnya mencapai 1.000 orang.

    Angka tersebut kontras dengan yang diutarakan juru bicara pemerintah yang menangani Covid-19 Achmad Yurianto yakni sampai 19 April 2020 hanya mencapai 582 orang.

    Daeng juga mengklarifikasi jika jumlah 1.000 orang tersebut merupakan data kematian gabungan antara korban meninggal yang telah dikonfirmasi positif terinfeksi Covid-19 dan yang masih berstatus pasien dalam pengawasan (PDP).

    Daeng M Faqih juga menyatakan bahwa data tersebut valid dan ia dapat berdasarkan laporan langsung dari rumah sakit yang disampaikan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

    Saat dikonfirmasi Minggu 19 April 2020, Daeng mengatakan jika memang data yang di sampaikan oleh IDI merupakan data kematian pasien yang berstatus positif terinfeksi Covid-19 dan juga yang masih berstatus PDP, jika di total angkanya mencapai 1.000 kasus.

    Data kematian dari pasien yang berstatus PDP ini belum disampaikan oleh pemerintah, padahal angka kematian dari pasien yang berstatus PDP ini juga banyak. Hal ini juga sebagai alasan pemerintah sangat berhati-hati dalam menyampaikan data kematian karena belum tentu yang berstatus PDP memang benar-benar meninggal karena Covid-19, bisa jadi karena penyakit bawaan lain.

    Rumah sakit tetap melaporkan angka kematian dari pasien yang berstatus PDP kepada BNPB karena termasuk angka kematian perawatan Covid-19.

    Hal ini disampaikan oleh IDI karena PDP saat berada di rumah sakit juga dirawat dengan prosedur seperti pasien Covid-19 dan saat pasien tersebut meninggal dunia juga di makamkan dengan protokol pemakaman layaknya pasien positif Covid-19.

    Daeng berpendapat jika PDP dan ODP di Indonesia cukup tinggi dan tidak bisa dilewatkan begitu saja, di kutip dari web kementerian Kesehatan RI catatan atas ODP di Indonesia sebanyak 178.883 orang, sedangkan catatan jumlah PDP mencapai 15.646 orang.

    Selain itu Daeng juga mengatakan pasien yang telah dilakukan tes saat ini masih sedikit, dan diperlukan waktu beberapa hari untuk mengetahui hasil daripada tes Covid-19.

    Daeng juga menilai, pelaksanaan tes Covid-19 di Indonesia masih sangat lambat, volume per harinya masih relatif kurang dan perlu percepatan testing serta lebih banyak tes massal agar deteksi kasus lebih dini untuk mendapatkan penanganan lebih cepat.

    Menang ada beberapa kasus PDP baru diketahui hasilnya setelah pasien tersebut meninggal, atau bahkan ada yang tidak sempat diketahui statusnya sudah meninggal terlebih dahulu.

    Ia juga menegaskan, jika test deteksi Covid-19 mampu dilakukan dengan lebih cepat, maka kematian dari yang berstatus PDP dapat diketahui penyebabnya.

    Daeng mengatakan PDP yang meninggal dan belum diketahui kasusnya bisa jadi masalah besar, dan ini perlu mendapatkan jawaban dari akar permasalahannya. Juga kasus corona di Indonesia masih berpotensi meningkat lebih besar lagi, karena data yang di update setiap hari oleh pemerintah bisa jadi merupakan data dari satu atau dua minggu lalu.

    Hal ini karena waktu pelaksanaan tes, dan pengumpulan hasilnya bisa memakan waktu satu pekan, sehingga konteks jumlah pasien Corona yang meninggal mencapai angka 1.000 juga berkaitan dengan jumlah tes yang sedikit dan waktunya yang lama.

    Daeng mendorong pemerintah agar tes virus corona di Indonesia bisa lebih dipercepat dan diperluas, dengan begitu penemuan kasus akan semakin cepat dan tepat.

    Berlangganan update artikel terbaru via email:

    Belum ada Komentar untuk "IDI Ungkap Kematian Corona di Indonesia Lebih dari 1.000 Kasus, Beda Dengan Data Pemerintah"

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel