Bom Waktu Kelaparan dan Corona pada Penyintas Rohingya

Daftar Isi [Tutup]

    Kebijakan Lockdown India yang dijalankan tiga minggu mengancam hidup pada penyintas Rohingnya, Mereka tinggal di rumah pengungsian, yang terbuat dari kayu dan lembaran plastik, saat ini mereka sedang berjuang dari rasa lapar, karena tidak mampu bekerja ataupun membeli makan.

    Mereka saat ini seperti dihadapkan pada Bom waktu yang berjalan, mereka terancam mati karena kelaparan dan ancaman virus corona (Covid-19), bahkan rumah yang mereka tinggal berdesak-desakan dengan akses bersih seadanya.

    Bom Waktu Kelaparan dan Corona pada Penyintas Rohingya

    Mengutip dari Al-Jazeera, tidak banyak bantuan yang disiapkan untuk para penyintas Rohingya, di India saat ini kurang lebih terdapat 40 ribu penyintas Rohingya yang sedang berjuang melawan ancaman corona (Covid-19).

    Salah satu kondisi yang tergambar pada kamp pengungsian Haryana, distrik Nuh, di tempat ini tidak ada satupun sabun, masker, ataupun hand sanitizer untuk para penyintas, selain itu, kamar mandi terlihat kotor dan minim persedian obat-obatan.

    Upaya yang bisa dilakukan untuk terhindar dari corona hanya bisa melakukan social distancing, namun upaya ini mungkin tidak efektif karena tempat tinggal yang berupa gubuk ini sangat berdekatan.

    Jaffar Ullah, salah satu guru yang tinggal di kamp pengungsian Rohingya mengatakan, bahwa ia terakhir memiliki sabun minggu lalu, sekarang hanya berharap keluarga yang memiliki sabun, dan yang lain tidak punya uang untuk membeli sabun.

    Penyemprotan disinfektan memang sudah dilakukan oleh pemerintah setempat, namun semprotan tersebut hanya di sekeliling hunian mereka, dan saat ini kasus demam pada penyintas Rohingnya mulai banyak ditemukan.

    Ullah mengatakan belum tau tentang demam yang dialami sebagian penyintas Rohingnya, apakah ini Covid-19 atau bukan, namun penduduk di sana saat ini khawatir karena dirumah sakit tidak melayani rawat jalan, kebanyakan rumah sakit telah menutup layanan rawat jalan sejak 24 maret 2020 lalu, dan juga tidak ada pengecekan yang dilakukan oleh pemerintah.

    Berdasarkan data survei NGO Rohingya Human Rights Initiative, 37 Rohingya teridentifikasi menderita demam dan gejala lainnya yang menyerupai gejala virus Corona.

    Meskipun begitu, pemerintah tidak menunjukan langkahnya untuk menolong para penyintas tersebut, Mereka seperti dibiarkan, bahkan Sabber Kyaw Min juru bicara NGO Rohingya Human Rights Initiative mengatakan organisasi PBB yang menangani pengungsi dan penyintas, juga tidak memperhatikan nasib Rohingya.

    Disisi lain UNHCR membantah pernyataan Min, karena beberapa minggu lalu sudah melaksanakan program kesadaran atas ancaman COVID-19 di berbagai pemukiman kumuh.

    Rencananya dalam waktu dekat, akan mendistribusikan sabun dan masker sementara akan dibagikan berdasarkan laporan kasus.

    Lockdown akibat virus Corona menghalangi mereka untuk memperoleh uang untuk membeli makan, juga bantuan dari pemerintah tidak ada, hal ini akan membuat mereka terpaksa bertahan dengan kondisi lapar.

    Presiden India Narendra Modi, menyampaikan permintaan maaf karena telah menerapkan lockdown untuk 3 minggu, lockdown adalah keputusan yang sulit, hal ini terpaksa dilakukan untuk menekan penyebaran virus Corona.

    Hingga Rabu, 1 April 2020, total sudah ada 1.590 kasus dan 45 korban meninggal dunia akibat virus Corona (COVID-19) di India terdapat juga pasien yang berhasil disembuhkan sebanyak 148 kasus.

    Berlangganan update artikel terbaru via email:

    Belum ada Komentar untuk "Bom Waktu Kelaparan dan Corona pada Penyintas Rohingya"

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel